Sebuah Pesan dan Perenungan Pasca IdulAdha

Home » Uncategorized  »  Sebuah Pesan dan Perenungan Pasca IdulAdha
Sebuah Pesan dan Perenungan Pasca IdulAdha

Kita baru saja melewati momen besar dalam Islam, yaitu Hari Iduladha. Banyak di antara kita melihat hewan kurban disembelih, daging dibagikan, dan masyarakat berkumpul dengan penuh kebahagiaan. Namun sesungguhnya, Iduladha bukan hanya tentang menyembelih hewan. Ada pelajaran besar yang harus kita ambil, terutama bagi para pelajar. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengajarkan tentang ketaatan, keikhlasan, dan pengorbanan.

Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail tidak marah dan tidak membangkang. Bahkan beliau berkata:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Sebagai pelajar, mungkin kita tidak diminta berkorban seperti Nabi Ibrahim. Tetapi kita diminta berkorban dalam bentuk yang lain. Berkorban waktu untuk belajar. Berkorban rasa malas demi masa depan. Berkorban ego untuk menghormati guru dan orang tua. Berkorban kesenangan sesaat agar cita-cita tercapai. Kadang ada siswa yang ingin sukses, tapi malas belajar. Ingin pintar, tapi tidak mau membaca. Ingin disayang guru, tapi sering melanggar aturan. Padahal keberhasilan selalu membutuhkan pengorbanan.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ جَدَّ وَجَدَ
“Siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.”

Selain tentang pengorbanan, Iduladha juga mengajarkan kepedulian sosial. Daging kurban dibagikan kepada banyak orang. Ini mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh egois. Di sekolah pun demikian. Jika ada teman yang kesulitan belajar, bantu. Jika ada teman yang sedih, hibur. Jika ada teman yang dibully, bela dan dampingi. Jangan malah mengejek atau membuatnya semakin terpuruk. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Mari jadikan semangat Iduladha sebagai semangat untuk menjadi pelajar yang; taat kepada Allah, hormat kepada orang tua dan guru, rajin belajar, dan peduli kepada sesama.

Mari kita jadikan momen setelah Iduladha ini sebagai titik perubahan diri. Jangan hanya ramai saat hari raya, tetapi juga semangat memperbaiki diri setelahnya. Untuk anak-anak dan para pelajar: mari menjadi siswa yang jujur, hormati guru, taat kepada orang tua, gunakan HP dan media sosial untuk hal yang baik, menjauhi perundungan, tawuran, dan perkataan kasar. Ingatlah bahwa masa muda adalah masa yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda bahwa di antara yang akan ditanya pada hari kiamat adalah tentang masa muda digunakan untuk apa.
Maka gunakan masa muda untuk belajar, beribadah, dan berbuat baik.

Usai memperingati Iduladha ini, mari kita bersama membawa semangat baru. Semangat menjadi pelajar yang bukan hanya pintar, tetapi juga berakhlak mulia. Karena bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang cerdas, tetapi juga orang yang jujur, disiplin, dan takut kepada Allah SWT.
Mungkin hari ini adik adik, yang saat ini duduk di bangku sekolah di Safinda, masih memakai seragam sekolah. Tetapi beberapa tahun lagi, di antara kalian ada yang akan menjadi guru, pemimpin, pengusaha, ulama, dokter, polisi, dan orang-orang hebat lainnya. Maka mulai sekarang, biasakan diri menjadi pribadi yang baik. Jangan malu menjadi anak saleh. Jangan malu rajin mengaji. Jangan malu hormat kepada guru. Dan jangan malu meminta maaf ketika salah. Semoga semangat Iduladha menjadikan kita pribadi yang ikhlas dalam beribadah, kuat dalam perjuangan, dan peduli kepada sesama.

Oleh : A. Aqim Alam Rahamtullah, S.Ag., M.Pd.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *