Oleh: Fatrotun Nurisyani, S.E, S.Pd.I.
Menjadikan Al-Qur’an sebagai Sumber Keteladanan
Pendidikan tidak hanya berbicara tentang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang proses membentuk karakter dan kepribadian peserta didik. Dalam proses tersebut, guru memiliki posisi yang sangat penting sebagai uswatun hasanah, yaitu teladan yang dapat dilihat, ditiru, dan dirasakan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Kesadaran inilah yang menjadi salah satu dasar penting dalam pembiasaan tadarus Al-Qur’an bagi para ustadz dan ustadzah di MI Safinda Surabaya. Sebelum mengajak peserta didik untuk mencintai, membaca, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an, guru perlu terlebih dahulu membangun kedekatan dengan Al-Qur’an melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
Pembiasaan tadarus bukan sekadar kegiatan membaca ayat demi ayat. Lebih dari itu, tadarus merupakan ikhtiar untuk menghadirkan Al-Qur’an dalam kehidupan pendidik, sehingga nilai-nilainya dapat tercermin dalam sikap, tutur kata, kesabaran, dan cara guru berinteraksi dengan peserta didik.
Tadarus sebagai Jalan Menuju Ketenangan
Rutinitas membaca Al-Qur’an memberikan dampak positif bagi spiritualitas seorang pendidik. Di tengah berbagai tuntutan dan dinamika kehidupan sekolah, tadarus dapat menjadi ruang untuk menenangkan hati, menjernihkan pikiran, sekaligus melakukan refleksi diri.
Guru yang memiliki ketenangan spiritual diharapkan mampu menghadirkan suasana pembelajaran yang lebih sabar, penuh kasih sayang, dan positif. Dengan hati yang lebih tenang, guru dapat menghadapi berbagai karakter peserta didik dengan sikap yang lebih bijaksana. Menurut pendapat para pakar pendidikan Islam, emosi guru yang stabil dan dipenuhi ketenangan spiritual akan melahirkan proses pembelajaran yang penuh kasih sayang dan kesabaran. Terkait hal ini, Prof. Dr. Quraish Shihab pernah menyatakan bahwa “Al-Qur'an adalah hidangan Allah, dan siapa pun yang mendekatinya dengan hati yang tulus akan memperoleh ketenangan serta petunjuk dalam menghadapi segala persoalan hidup”.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Ar-Ra'd ayat 28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ayat tersebut memberikan penguatan bahwa mengingat Allah merupakan jalan menuju ketenteraman hati. Bagi seorang pendidik, ketenteraman hati menjadi bekal penting dalam menjalankan amanah pendidikan dan menghadapi berbagai dinamika di lingkungan sekolah.
Membaca, Memahami, dan Menghidupkan Nilai Al-Qur’an
Tadarus juga memiliki nilai ibadah yang besar. Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan.”(HR. Tirmidzi)
Hadis tersebut menjadi motivasi untuk terus mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Namun, semangat tadarus hendaknya tidak berhenti pada aktivitas membaca. Nilai yang lebih utama adalah bagaimana kebiasaan tersebut dapat mendorong seseorang untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan pesan-pesan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, tadarus di lingkungan sekolah diharapkan menjadi bagian dari proses membangun budaya religius yang tidak hanya terlihat dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga tercermin dalam akhlak dan perilaku seluruh warga sekolah.

Membangun Kebiasaan secara Konsisten
Agar kegiatan tadarus dapat berlangsung secara berkelanjutan, diperlukan pembiasaan yang sederhana, terarah, dan konsisten. Salah satu langkah yang dapat diterapkan adalah menyediakan waktu khusus sekitar 10–15 menit setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai.
Selain itu, kegiatan dapat dikembangkan melalui metode One Day One Page, yaitu membiasakan membaca minimal satu halaman Al-Qur’an setiap hari. Kegiatan dapat dilakukan secara bersama-sama dengan target bacaan tertentu sehingga tumbuh semangat untuk menyelesaikan bacaan secara bertahap.
Konsistensi menjadi kunci utama. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus akan lebih bermakna daripada kegiatan besar yang hanya dilakukan sesekali.
Dari Guru untuk Peserta Didik
Keteladanan merupakan salah satu cara pendidikan yang paling kuat. Peserta didik tidak hanya belajar dari apa yang disampaikan guru, tetapi juga dari apa yang dilakukan guru.
Ketika peserta didik melihat ustadz dan ustadzah meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, menjaga adab, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan, secara tidak langsung mereka memperoleh pengalaman tentang pentingnya mencintai kitab suci.
Dari sinilah pembiasaan tadarus dapat menjadi jembatan antara pendidikan agama dan pembentukan karakter. Guru menjadi teladan, peserta didik mendapatkan inspirasi, dan sekolah tumbuh menjadi lingkungan yang mendukung terbentuknya generasi yang berakhlak mulia.

Harapan untuk Masa Depan
Pembiasaan tadarus Al-Qur’an di MI Safinda Surabaya diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah program atau rutinitas harian. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat tumbuh menjadi budaya sekolah yang mengakar dalam kehidupan seluruh warga sekolah.
“Semoga setiap ayat yang dibaca menjadi cahaya bagi hati, setiap keteladanan menjadi inspirasi bagi peserta didik, dan setiap langkah dalam membiasakan tadarus menjadi jalan menuju sekolah yang penuh keberkahan” begitu harapan dari koordinator diniyah.
Harapan yang lebih besar adalah lahirnya lingkungan pendidikan yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga kuat dalam spiritualitas dan akhlak. Ketika para ustadz dan ustadzah istiqamah berinteraksi dengan Al-Qur’an, diharapkan nilai-nilai Al-Qur’an semakin nyata dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Dengan demikian, kegiatan tadarus dapat memberikan pengaruh positif bagi suasana sekolah, mempererat kebersamaan, menghadirkan ketenangan, serta mendukung proses pembentukan karakter peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.
Pada akhirnya, membangun budaya cinta Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan mengajak peserta didik untuk membaca. Budaya tersebut perlu dimulai dari keteladanan para pendidik.
Tadarus yang dilakukan dengan niat yang tulus dan istiqamah merupakan bentuk ikhtiar sederhana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus membangun karakter pendidik yang lebih baik. Dari guru yang dekat dengan Al-Qur’an diharapkan lahir pembelajaran yang lebih bermakna, lingkungan sekolah yang lebih religius, dan peserta didik yang tumbuh dengan kecintaan terhadap Al-Qur’an serta akhlak yang mulia.
Semoga MI Safinda Surabaya senantiasa menjadi tempat tumbuhnya generasi yang berilmu, berakhlak, mencintai Al-Qur’an, dan membawa keberkahan bagi keluarga, sekolah, masyarakat, dan bangsa.
